Gejala Serangan Jantung Bisa Timbul Akibat 'Patah Hati'!

176

Patah hati tak jarang membuat orang yang mengalaminya jatuh sakit. Jadi pengentau, apa sebenarnya hubungan antara patah hati dengan kondisi fisik seseorang.

Seorang psikoterapis di California dan Colorado serta penulis buku 'Wise Mind, Open Mind: Finding Purpose and Meaning in Times of Crisis, Loss, and Change', Ronald A Alexander, menyayangkan cukup banyak orang mengabaikan kenyataan bahwa 'patah hati memiliki dampak pada tubuh' seseorang.

"Anda tidak sendirian jika Anda memutuskan untuk tetap di ranjang dan merasa terkucil dari dunia. Patah hati dapat menciptakan satu perasaan seakan mereka kehilangan kendali atas kapal kehidupan mereka. Menangis dan terisak-isak adalah hal yang wajar, demikian pula munculnya perasaan melankolis. Namun juga ada gejala fisik," jelasnya.

Salah satu gejala awal yang biasanya dialami seseorang yang tengah patah hati adalah sulit tidur. Menurut Alexander, kondisi ini dipicu oleh perasaan gelisah yang mengganggu proses biologis seseorang hingga akhirnya sulit tertidur.

"Saat Anda menderita akibat patah hati, akan sangat sulit untuk menenteramkan pikiran Anda, 'mematikan' dan beristirahat. Ini penting untuk mengetahui bahwa kesedihan dan duka akibat patah hati dapat meningkatkan dan membanjiri sistem saraf," paparnya.

"Sangat normal dalam keadaan hypoarousal ini untuk memicu perasaan hilang kendali," imbuhnya.

Menangis
Menangis dan terisak-isak saat patah hati adalah hal yang wajar (ilustrasi)

Patah Hati Dan Serangan Jantung

Kegelisahan tersebut juga kerap membuat jantung berdebar lebih kencang. Bahkan dalam beberapa kasus yang ekstrim, patah hati dapat memicu gejala seperti serangan jantung.

Sindrom patah hati (Takotsubo Cardiomyopathy), yang pertamakali digambarkan dalam literatur medis Jepang di tahun 1990, adalah kondisi jantung sementara yang terasa dan tampak seperti serangan janting dan terkadang hadir karena situasi stress seperti saat menghadapi kematian dari seseorang yang dikasihi atau ketika putus hubungan kekasih (PHK).

Hal tersebut juga dijelaskan oleh seorang kardiolog dari New York University Langone Medical Center, Harmony Reynolds, yang menuturkan bahwa sindrom patah hati terdiagnosa pada sekitar satu hingga dua persen pasien yang datang ke rumah sakit dengan gejala serangan jantung.

Menurutnya, gejala yang timbul, perubahan elektrokardiogram, serta hasil tes darah seseorang yang terkena sindrom patah hati mirip dengan pasien yang benar-benar mengalami serangan jantung. Bedanya, arterinya tetap terbuka (tidak tersumbat).

"Pasien dengan sindrom patah hati juga mengalami kelainan yang luas pada fungsi otot jantung pada masa itu. Malfungsi otot jantung tersebut akan pulih sepenuhnya dalam waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Sayangnya, mereka yang terkena sindrom patah hati akan terus mengalami peningkatan resiko sakit jantung dan stroke," papar Reynolds.

Baca juga Kisah Sukses Diet Ketogenik: Petinju Ini Berhasil Turunkan Berat Badan dengan Makan 7x Sehari dan Siap Tanding Kembali Usai 'Dicekal' Dua Tahun

Detak jantung
Sindrom patah hati terdiagnosa pada sekitar satu hingga dua persen pasien yang datang ke rumah sakit dengan gejala serangan jantung (ilustrasi)

Berdasarkan penelitan yang dipimpin oleh Reynolds menunjukan bahwa kondisi akan lebih buruk jika menerpa wanita yang berusia lebih tua. "Minimal 6000 kasus sindrom ini muncul di Amerika Serikat setiap tahun dan lebih dari 90 persen pasien adalah wanita, biasanya pasca menopause," jelasnya.

Cara Mendiagnosa Pasien 'Patah Hati'

Untuk mendeteksi apakah seorang pasien mengalami gejala serangan jantung akibat dampak sindrom patah hati atau bukan, seorang kardiolog dari Lankenau Medical Center di Wynnewood, Pennsylvania, Jeanine Romanelli, menjelaskan bahwa dokter lebih dahulu harus mengesampingkan penyebab potensial lainnya, seperti penyakit jantung serta pembekuan darah atau penyumbatan, sebelum mendiagnosis dan mengobati sindrom patah hati.

"Kami melakukan pendekatan perawatan yang sama dengan yang mengalami gagal jantung, menggunakan pengencer darah, penghambat ACE dan beta blocker. Dan karena 10 persen pasien yang mengalami episode sindrom patah hati akan menghadapi episode kedua, penting bagi kami untuk memonitor perkembangan pasien juga dengan menggunakan ultrasound," jelas Romanelli.

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Gejala Tersebut?

Sepertinya cara 'move on dari mantan' merupakan solusi terbaik untuk menghindari sindrom patah hati. Romanelli menyarankan untuk memikirkan kembali aktivitas sehari-hari yang dapat membantu seseorang menghilangkan stress masa lalu.

"Beberapa teknik seperti minum-minum atau lebih banyak makan dapat membuat jantung Anda beresiko, jadi cobalah untuk beralih ke kegiatan yang menghilangkan atau membantu mengatasi stress. Meditasi, mengatur pernapasan, yoga, atau bahkan berhenti sejenak dari medsos untuk pergi bersama teman atau membaca buku dapat membantu," ungkapnya.

Meditasi
Meditasi, mengatur pernapasan, yoga dapat membantu mengatasi sindrom patah hati (ilustrasi)

"Menarik napas dalam-dalam, menelepon teman untuk mendapat dukungan, melakukan konseling atau jalan-jalan," saran Alexander.

"Jika Anda bisa, berjalanlah saat berada dalam air ketika Anda patah hati. Melihat air melewati Anda secara sederhana dapat menuntun Anda secara tidak sadar menyadari bahwa segalanya telah berubah dan tidak ada yang tetap sama. Patah hati dan Anda akan merasa sedih, namun usahakan untuk ingat: Ini juga akan berlalu," imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.